HARI SANTRI

HARI SANTRI

Menjadi Santri (di) PMII

blogger templates


Semenjak mengikuti Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK), aku memang tertarik kepada organisasi-organisasi "eksternal" yang diperkenalkan kepada peserta. Awalnya aku tertarik dengan  PII (Pelajar Islam Indonesia), dikarenakan paparan dan gambaran organisasi yang disampaikan oleh "marketing"-nya bikin aku minat masuk. Salah satu isi materi yang disampaikan ialah gagasan yang memadukan pemikiran model pendidikan umum dan khazanah pesantren.

Ketertarikan itu hanya sampai di forum ospek saja, disebabkan tidak ada 'cerita lanjutan' dari para punggawa PII untuk melaksanakan pengkaderan. Singkat cerita, akhirnya aku hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah kerja, itulah rutinitas yang  mengisi waktu di satu semester awal kuliah.
Pada suatu waktu, aku diajak teman sekelas untuk mengikuti (katanya) MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII. Di dalam ruangan yang "belum rampung" itu aku duduk sambil mendengarkan apa yang disampaikan para organisatoris PMII. MAPABA dan PMII, dua kata yang masih asing di telinga ku (waktu itu), yang kemudian hari justru sangat "akrab" bukan hanya dengan telinga, tapi aku merasa sudah mendarah daging (internalized value). Hehehee.....!!!!

Di acara yang tempatnya sederhana itu, aku tak terlalu fokus dan serius mengikutinya. Aku berpandangan, waktunya ngaret, engga ada konsumsi, tempatnya engga nyaman, intinya kurang tertarik untuk ikut. Selain itu, sore harinya aku harus pulang karena masuk kerja shift 2. 

Menjalani kuliah sambil kerja. Atau bisa disebut juga kerja sambil kuliah. Membuat waktu terbagi, pikiran terbelah, bahkan finansial terkuras. Hari demi hari aku jalani rutinitas tersebut. Meskipun, hati kecil ini memiliki keinginan untuk segera keluar (resign) bekerja. Karena waktu kerja dan kuliah seringkali "bentrok", yang berdampak aku harus mengorbankan waktu kuliah.

Pikiranku terus dihantui ingin keluar kerja, harapan untuk fokus kuliah dan ikut berorganisasi terus bergelayut dalam alam pikiranku. Suatu waktu aku kembali diajak ikut proses MAPABA. Aku bimbang karena bakal benturan dengan waktu kerja. Akhirnya aku putuskan ikut kegiatan MAPABA. Aku ikut MAPABA selama tiga hari, dan aku menelpon atasanku dengan alasan sakit.

Setelah aku pulang dari kegiatan MAPABA, esok hari pergi ke klinik untuk minta surat keterangan sakit. Drama, yang kemudian hari aku sebut sebagai "jurus tipu-tipu" aku mainkan. Sebelum ke klinik, malam harinya aku dikerok seolah masuk angin. Dengan menampilakan muka pucat, dan ada bekas kerokan aku datang ke klinik. Terus diperiksa, tak lama dibuatkan juga surat keterangan sakit untuk bukti ke perusahaan. Ada kesan lucu bercampur sedih karena adanya pertentangan antara harapan dan kenyataan.

Terkadang, aku menangis dalam lamunan menghadapi kenyataan ini. Bahkan, aku pernah mengalami fase "kebuntuan" dalam menghadapi situasi. Rasa putus asa melumuri langkah hidupku. Seperti tak ada harapan masa depan, penyesalan akan masa lalu jadi penghias isi otak-ku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah dalam kurun waktu hampir 4 bulan. 

Semangat kuliah terus surut, aku hanya fokus bekerja dan mengisi waktu luang dengan lahapan buku-buku yang berceceran di lemari reot. Seiring waktu, pernah ada rencana untuk pindah kuliah. Sampai-sampai aku menyambangi beberapa kampus buat jadi referensi. 

Seiring perjalanan waktu, dialektika antara asa dan realita berujung pada pilihan. Pilihan untuk 'kembali' melanjutkan kuliah di tempat yang sama. Aku tidak jadi pindah kampus. Pilihan tersebut tidak lepas dari dorongan, motivasi teman dan sahabat khususnya teman satu kelas. Akhirnya aku melanjutkan kuliah meskipun  bercampur rasa malu dikarenakan sudah lama tidak masuk kuliah. Dan yang membuat agak sedih, namaku sudah "dihapus" di daftar absen kampus. Dengan memasang muka tebal, modal pede (percaya diri) aku merajut kembali semangat yang sempat pudar.
 
Setelah aktif kuliah lagi, spirit untuk aktif organisasi masih melekat. Semangat untuk ikut berorganisasi adalah hasrat yang sudah lama terpendam. Karena aku adalah anggota PMII yang "menghilang" setelah dibai'at saat MAPABA. Tak lama kemudian, kerja habis kontrak. Karena memang aku tidak ada keinginan untuk menjadi karyawan tetap (permanent worker). Menurut ku, aktivitas kuliah sambil kerja "mengkerangkeng" untuk aktif di organisasi dan fokus kuliah. 

Waktu terus bergulir, aku mulai aktif (lagi) ber-PMII. Mulai beproses dan mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Purwokerto, Jawa Tengah. Setelah itu, intensitas kuliah dan berorganisasi semakin meningkat. Lambat laun mulai merasakan menjadi "mahasiswa beneran". Dan terus menerus mengkaji dan memahami PMII. Menjadikan PMII sebagai lahan belajar, memposisikan PMII sebagai ruang kawah chandradimuka. 

Beberapa bulan setelah PKD, bersama dengan kader-kader lainnya, terutama sahabat Jaya Hartono aku mengurus adiministrasi dan segala kebutuhan lain untuk menyelenggarakan Rapat Tahunan Komisariat (RTK). Sebelumnya, Komisariat STAI Haji Agus Salim Cikarang sempat mengalami dinamika organisasi yang cukup sengit. Konflik dan gesekan para pendahulu(senior) membuat kepengurusan terbengkalai dan bahkan sempat vakum. Singkat cerita, akhirnya RTK terlaksana dan dianggap sah. Hasil dari RTK menghantarkan aku menjadi Ketua Komisariat Masa Khidmat 2013-2014  mengungguli sahabat Jaya Hartono melalui pemilihan langsung. 

Hari demi hari, kita berproses. Mengurus SK, belajar administrasi sampai diskusi di Komisariat. Sebenarnya, aku belum siap untuk jadi Ketua Komisariat. Aku hanya anggota yang tidak aktif setelah MAPABA. Bahkan dari sisi akademis, kuliah sempat "cuti" sendiri. Hehehe. Aku merasa tidak pantas sesungguhnya. Namun, perasaan itu sirna lambat laun lantaran semangat yang tinggi untuk belajar dan berproses.

Aku semakin bersemangat, lantaran bisa fokus kuliah dan berorganisasi yang sudah lama diidam-idamkan. Berkat PMII, aku bisa mengikuti agenda besar di luar daerah seperti Kongres BEM/DEMA PTAI Se-Indonesia di Wonosobo Jawa Tengah medio 2013. Padahal, aku bukan pengurus BEM. Itulah PMII, jika kita mau, yakin pasti bisa. Kebanggaan ku semakin besar dan apalagi masa itu rencana pemekaran PC PMII Kabupaten Bekasi semakin kencang bergulir. Motivasi semakin kuat untuk terlibat dalam sejarah PMII Kabupaten Bekasi. 

Agenda dan kerja-kerja organisasi dilaksanakan. Kaderisasi diselenggarakan, seminar, silaturrahim alumni/senior dilakoni, membangun koneksi jaringan dilakukan demi mengembangkan organisasi. Tradisi Tahlilan, Yasinan, Peringatan Hari Besar Islam, kita selenggarakan sebagai manifestasi nilai-nilai Aswaja, khususnya ke-NU-an di tataran Kampus. Meski bukan santri aku merasa ada kebanggaan karena mampu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang "akrab" dengan tradisi kaum santri. Walaupun banyak kekurangan di sana sini. Pengurus dan anggota yang aktif sedikit, karena aku menganggap di masa-ku mahasiswa yang melek organisasi sangat sedikit. Fakta itu tidak membuat aku patah arang, bersama sahabat-sahabat yang mau bergerak kami terus melanjutkan perjuangan.

Dan di sisi lain, wacana serta propaganda pemekaran terus digulirkan. Melalui perjalanan panjang dan berliku, akhirnya PC PMII Kabupaten Bekasi terbentuk melalui forum Konfercab I 17 April 2014. Sahabat Ombi Hari Wibowo (Komisariat INISA/Yapink Tambun) terpilih menjadi ketua pertama. Lewat rapat formatur, aku menjadi sekretaris. Sebuah posisi yang berat bagiku saat itu untuk menjabat sebagai sekretaris. Bicara etika dan regenerasi organisasi, masih banyak kader di atas aku yang layak dan pantas mengisi posisi Sekretaris.

Dalam sebuah perenungan(refleksi) perjalanan di PMII, aku merasa tidak pantas ikut dan aktif di PMII. Aku bukan santri jebolan Pesantren, karena PMII bagaimanapun dilahirkan oleh restu Kiyai/Ulama Pesantren dan mahasiswa-mahasiswa double basic (Mahasiswa-Santri). Aku hanyalah anak kampung yang ngaji malam hari (maghrib-isya) dengan pelajaran sederhana. Belajar alif, ba' ta....dst..., bersama guruku yang cuma level ustadz kampung. Selain itu, aku sekolah, dari tingkat dasar sampai SMA di sekolah "made in Belanda" alias sekolah umum. Yang pelajaran agamanya tidak lebih 2 jam dalam seminggu. Asupan pendidikan keagamaanku sangat minim. Aku hanyalah seorang abangan.

Di sisi lain, aku sudah terlanjur berproses di PMII. Jadi, banyak hal yang aku dapatkan. Banyak sesuatu yang aku tahu berkat mengikuti PMII. PMII menjadikan aku untuk terus membaca, diskusi, berfikir sebagaimana jargon populernya. Baca, diskusi, aksi. Bahkan, aku tahu Nahdlatul Ulama (NU) secara lebih mendalam ketika ikut PMII. Guruku di Kampung tak pernah memberitahu, apa itu NU, apa itu Aswaja. Di kemudian hari  aku baru tahu, tradisi keagamaan yang sudah lama berjalan dan banyak kesamaan ternyata itu amalan NU. Semua itu berkat aku "nyantri" di PMII.

Aku jadi terdongkrak untuk terus mengupgrade khazanah pengetahuan tentang NU dan PMII melalui buku-buku, media online atau berdiskusi. Terus menerus terpacu untuk meneropong tradisi keulamaan, pesantren sampai kitab-kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren. Aku banyak numpang "tidur" di rumah Gus Imam (M. Imam Sofwan) sambil diselingi kongko dalam rangka menelusuri relung-relung khazanah pesantren. Sekaligus tabbarukan karena beliau putra Kiayi yang cukup masyhur pada zamannya;KH. Abubakar Sanusi(Kaum Kali jeruk Cikarang Barat). Tak sedikit, gagasan, ide dan gerakan yang lahir dari gedung yang populer disebut "lantai II" itu.

Keraguan dan perasaan tidak pantas masuk PMII kadang datang dan pergi. Terlebih, saat forum pengajian dan diskusi dengan kakak idelogis,yaitu Ansor. Apalagi dengan orangtua yaitu NU. Aku seringkali minder, ketika mendengar bahasa-bahasa pesantren sebagai identitas yang orisinil dari NU(termasuk PMII di dalamnya). Tapi, aku sering inget kata-kata salah satu tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, "Jalan saja nanti juga ketemu jalan di jalan". Sebuah kata yang seringkali dijadikan pompa semangat disaat gairah pergerakan sedang surut.

Aku sadar, sebenarnya aku tak layak masuk PMII. Tak pantas berada di jajaran pimpinan organisasi PMII. Aku tak bisa baca kitab kuning, tak becus bahasa arab, tak banyak hafal hadits apalagi al qur'an. Aku bukan 'Gus', Aku bukan produk pesantren. Akan tetapi, aku ingin menjadi santri (di) PMII.

Oleh: Adiyanto Saputra Wijaya
(Anggota yang pernah "menghilang"di PMII setelah di Bai'at)

4 Responses to "Menjadi Santri (di) PMII"

  1. Oooh seperti itu....iyaiyaiya

    Mantap pak ketum,jadi nambah motivasi lagi di pemikiran saya....

    BalasHapus
  2. Kaga kebayang kalo si ketum masuk "PII" ... Hahaaa Piss

    BalasHapus
  3. Jangan di bayangin atuh mamang aldo...

    BalasHapus